Namaku Sora, dan aku mempunyai seorang kakak laki-laki yang amat sangat kusayangi. Kakakku bernama Hoshi. Aku biasa memanggilnya Kak Rei, dan ia biasa memanggilku dengan sebutan 'Neng Pipauw', yang merupakan kepanjangan dari 'Pipi Bakpau".
Hoshizora? sebuah kata yang cukup asing bagi orang yang bertempat tinggal di tanah air tercinta kita ini. Tetapi bagi aku dan kakakku yang sangat menyukai segala sesuatu tentang negara Jepang, tentu kata Hoshizora yang berarti langit berbintang ini sudah tidak asing.
Sebenarnya aku dan kakakku bukanlah kakak-beradik sungguhan. Persaudaraan kami, kamilah yang membuatnya sendiri karena hubungan kedekatan kami yang sangat dekat. Aku kenal kakakku sejak bulan Agustus tahun 2008 karena kami tergabung dalam suatu komunitas pecinta Jepang, dan kebetulan rumah kami berdekatan.
Tanpa seorang pun tahu bahwa aku menyimpan perasaan yang special pada kakakku itu.
"Kak Rei, Kak Rei! Cepatlah keluar dari persembunyianmu" Teriakku cukup memekikkan telinga, tetapi tetap saja kakakku itu tak terlihat batang hidungnya.
Saat diriku ini mulai lengah, munculah seseorang dengan wajah sedikit mirip dengan tokoh Yoon Ji Hoo di film Boys Before Flower, yang bernama Hoshi atau biasa kupanggil dengan sebutan Kak Rei. Dan dia pun kembali melakukan kebiasaannya yaitu mencubit pipiku yang cukup tembem bagi dia.
"Aaawww... Hei kau. Sakit tau!! Mana kado untukku? Hari ini aku berulang tahun" Aku mulai merengek manja.
"Aaawww... Hei kau. Sakit tau!! Mana kado untukku? Hari ini aku berulang tahun" Aku mulai merengek manja.
"Hei Pipauw adikku sayang, kakak suka deh kalau kamu merengek seperti itu. Terlihat sangat lucu" Ucap Rei menggodaku.
Saat malam tiba, kami selalu pergi ke sebuah taman dimana terdapat dua buah ayunan yang biasa kami gunakan untuk menenangkan hati sambil melihat Hoshizora. Saat hati kami sedang sedih, kami berdua selalu bercerita pada Hoshi yang berarti bintang ataupun pada Sora yang berarti langit.
"Pauw, ini buat kamu. Maaf kakak gak bisa kasih kamu barang yang mahal, tapi kakak mau kamu jaga barang ini ya, ini buatan kakak sendiri." Tiba-tiba mengeluarkan sebuah mug yang dimana di mug itu terdapat fotoku, foto kakakku, dan tokoh Naruto-Hinata adalah tokoh favorit kami berdua.
Saat malam tiba, kami selalu pergi ke sebuah taman dimana terdapat dua buah ayunan yang biasa kami gunakan untuk menenangkan hati sambil melihat Hoshizora. Saat hati kami sedang sedih, kami berdua selalu bercerita pada Hoshi yang berarti bintang ataupun pada Sora yang berarti langit.
"Pauw, ini buat kamu. Maaf kakak gak bisa kasih kamu barang yang mahal, tapi kakak mau kamu jaga barang ini ya, ini buatan kakak sendiri." Tiba-tiba mengeluarkan sebuah mug yang dimana di mug itu terdapat fotoku, foto kakakku, dan tokoh Naruto-Hinata adalah tokoh favorit kami berdua.
Tak terasa air mata ini jatuh, dan aku mengeluarkan sesuatu dari tasku, kuberikan sebuah mug yang aku beli untuknya saat aku keluar kota beberapa hari yang lalu.
"Lho? Aku kasih kamu mug kenapa kamu kasih mug lagi?" Kak Rei kebingungan.
"Lho? Aku kasih kamu mug kenapa kamu kasih mug lagi?" Kak Rei kebingungan.
"Aku dari luar kota, Kak. itu oleh-oleh untuk kakak." Aku pun memberikan senyuman terbaikku.
“Sankyuu Neng Sora pipi bapauw.” Kak Rei memamerkan giginya.
*
Saat kami sedang asik dalam diam dan pikiran masing-masing sembari menatap Hoshizora. Tiba-tiba Kak Rei memanggilku dengan menatapku "Neng pipauw", aku pun menatap dan berkata "Iya Kak, ada apa?"
Aku beraharap ada yang berubah dalam hubungan kami, dari hanya sebuah kakak-beradik menjadi lebih jauh lagi.
Tapi ternyata....
“Jadi adik Rei sampai tewas ya”
“Ha? Ng.. Iya Kak” Jawabku dengan hati yang sedikit agak kecewa.
"Pauw, Hoshizora jadi saksi lho dari jawaban kamu tadi" Ucap Rei kepadaku, Dan aku hanya membalas dengan senyum ragu-ragu tanpa bicara apapun lagi.
"Pauw, Hoshizora jadi saksi lho dari jawaban kamu tadi" Ucap Rei kepadaku, Dan aku hanya membalas dengan senyum ragu-ragu tanpa bicara apapun lagi.
Kami pun kembali tenggelam dalam pikiran masing-masing. Di tengah keheningan, lagi-lagi Kak Rei memecahkan keheningan tersebut.
"Pauw, Rei punya adik kelas mirip banget sama Pipauw" Aku pun penasaran dan bertanya “Hah? Siapa Kak orangnya?" Lalu Rei menjawab "Namanya Shigatsu, Pauw" Lalu aku bertanya lagi "Terus Kak? Kenapa kakak cerita tentang dia?", "Aku jatuh cinta, Pauw, sama Shigatsu" Jawab Rei.
Jawaban itu. Ya, jawaban bahwa kakakku mencintai adik kelasnya merupakan jawaban yang paling menakutkan saat ini. Bahkan lebih menakutkan daripada jawaban yang salah di soal fisika yang membuatku selalu mendapat nilai remedial. Tetapi jawaban itu sudah keluar, keluar langsung dari mulut kakakku itu.
Satu bulan kemudian.....
Selama satu bulan ini aku mencoba ikhlas dengan semua kenyataan yang ada, dan aku turut membantu usaha PDKT si kakak dengan adik kelasnya ini.
Di malam yang penuh bintang aku datang kembali ke taman itu dan duduk sendirian disana. Sejak malam itu, hubunganku dengan Kak Rei agak sedikit berbeda. Padahal sebelumnya kami berjanji akan menjadi kakak-beradik selamanya, tapi entah mengapa setelah aku mendengar jawaban yang menakutkan itu, aku menjadi sedikit jaga jarak dengan Kak Rei. Tetapi Kak Rei pun tak menyadari bahwa aku sedang jaga jarakku dengannya, mungkin karena dia terlalu sibuk dengan usaha melakukan pendekatan dengan adik kelasnya itu. Setiap aku bertemu dengan Kak Rei, tak lain tak bukan hanya membicarakan adik kelasnya itu dan meminta bantuan terhadapku.
Tak lama kemudian entah mengapa, tanpa janjian terlebih dahulu Kak Rei pun datang juga ke taman tempatku duduk.
Terlihat dari kejauhan dia berlari dan berteriak "Pipaaaaaauuuwwwwww... Sudah kuduga kau pasti datang ke tempat ini". Aku pun berdiri dan berkata “Hehehe. Iya, Kak. Lagi ingin curhat sama Hoshi at the sky".
"Halaahh.. Bahasamu nak" Tiba-tiba Kak Rei berbicara, lalu memelukku. Aku pun kaget dan berkata "Ada apa Kak?"
"Hayoo tebak, ada apa!” Jawab Kak Rei dengan senyuman yang sumringah.
“Gatau ah, Kak” Jawabku Kesal
"Aduuuhhh.... Kakak suka deh kalau adiknya ngambek seperti itu. Ingin kakak cubit pipinya" Jawab Rei meledekku.
Aku hanya diam tanpa memberikan senyuman sedikit pun.
"Ahh... Si Pipauw benar-benar ngambek. Okelahh Rei ceritain yaa.. Rei sudah jadi pacarnya Shigatsu doong" Katanya dengan penuh kegembiraan.
Bagai tersambar petir hatiku, bahkan lebih buruk dari tersambar petir saat mendengar perkataan itu. Hanya kata "Selamat ya, Kak" yang dapat keluar dari mulutku. Lalu aku terpaksa berbohong pada Kak Rei untuk izin pulang.
"Aduuuhhh.... Kakak suka deh kalau adiknya ngambek seperti itu. Ingin kakak cubit pipinya" Jawab Rei meledekku.
Aku hanya diam tanpa memberikan senyuman sedikit pun.
"Ahh... Si Pipauw benar-benar ngambek. Okelahh Rei ceritain yaa.. Rei sudah jadi pacarnya Shigatsu doong" Katanya dengan penuh kegembiraan.
Bagai tersambar petir hatiku, bahkan lebih buruk dari tersambar petir saat mendengar perkataan itu. Hanya kata "Selamat ya, Kak" yang dapat keluar dari mulutku. Lalu aku terpaksa berbohong pada Kak Rei untuk izin pulang.
"Kak, aku gak enak badan nih, pulang duluan, ya". Tanpa menunggu jawaban dari Kak Rei aku sudah berlari dengan lekas.
Tiga bulan kemudian...
Sudah tiga bulan aku mengetahui kakakku berpacaran dengan adik kelasnya. Tetapi hubunganku dengan sang kakak semakin tidak karuan alurnya. Kali ini bukan aku yang menghindarinya, tetapi kakakku yang terlalu sibuk dengan pacarnya itu.
Sudah beberapa bulan terakhir ini aku ke taman ini tanpa kakakku. Kakakku sepertinya tidak pernah mengunjungi tempat ini lagi.
Di tempat ini aku jadi teringat akan kata-kata temanku, dia mengatakan bahwa jangan terlalu dekat dengan seseorang, karena pada suatu saat seseorang itu akan menjauh dari kita karena suatu hal.
Lalu aku teringat kata-kata ayahku yang mengusulkan untuk pindah keluar kota. Setelah kupikir-pikir aku setuju dengan pendapat ayahku. Mungkin aku akan mendapatkan sesuatu yang baru di tempat yang baru.
Lalu aku teringat kata-kata ayahku yang mengusulkan untuk pindah keluar kota. Setelah kupikir-pikir aku setuju dengan pendapat ayahku. Mungkin aku akan mendapatkan sesuatu yang baru di tempat yang baru.
Tanpa berpamitan secara langsung dengan kakakku, aku pergi hanya dengan meninggalkan sepucuk surat yang kutaruh di depan rumahnya.
Namaku Sora yang berarti langit, dan sangat kesepian tanpa adanya kakakku yang bernama Hoshi yang berarti bintang.
Sama halnya dengan langit, pasti akan sangat terlihat kosong tanpa adanya bintang bertaburan di langit tersebut. Langit dan bintang seharusnya saling menopang. Langit takkan terlihat indah tanpa adanya sang bintang, sebaliknya sang bintang pun tak mempunyai tempat selain langit.
Sama halnya dengan langit, pasti akan sangat terlihat kosong tanpa adanya bintang bertaburan di langit tersebut. Langit dan bintang seharusnya saling menopang. Langit takkan terlihat indah tanpa adanya sang bintang, sebaliknya sang bintang pun tak mempunyai tempat selain langit.
**
RADEN MIA OS
Cerita ini di buat ketika ia berumur 15 tahun
Cerita ini di buat ketika ia berumur 15 tahun
Tidak ada komentar:
Posting Komentar