Selasa, 22 Juli 2014

9

-Ann

Kelak ketika kamu melihatku menangis lagi, aku mohon berpura-puralah tidak melihat air mataku. Aku menangis bukan karena sedang meminta semacam pengertian lalu membuatmu menjadi sedikit melemah, atau sekedar mencari-cari perhatian siapapun, tidak sama sekali. Kadang hanya dengan cara itu, rongga dadaku bisa sedikit lega.

Hati itu lucu sekali, mungkin bentuknya tidak jauh lebih besar dari sekepalan tangan. Namun otak tidak pernah bisa menakarnya.

Aku pernah menertawakan mentah-mentah soal cinta. Lalu Tuhan memberiku cinta yang amat banyak untuk diberikan pada seorang. Seorang saja. Namun aku kualahan, ternyata cinta datang bersama rasa sakit yang sama besarnya, itu sebabnya mungkin kita semakin mencintai, semakin sering pula kita menangis.

Seorang pernah berkata padaku, cinta itu tidak pernah menyakiti. Jikapun kamu harus menangis, mungkin menangis bukan karena rasa sakit melainkan rasa syukur yang meluap-meluap karena perasaan bahagia mencinta.

Sayang, jika sekali lagi kamu melihatku menangis karena sakit, anggaplah cintaku masih sebesar egoku atau mungkin aku masih belum memahami apa-apa. Hanya saja, ketika kamu mulai mendominasi kehidupanku, perasaan apapun akan masuk dalam perhitunganku. Kamu bukan lagi perihal seorang yang sekedar menutup hariku dengan ucapan selamat malam, atau memanggilku dengan panggilan 'sayang'. Kamu lebih dari itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar