Minggu, 19 Januari 2014

Azizah, Perempuan yang Menunggu

Saat senja aku menelusuri danau yang sudah mulai menyepi, hanya terdengar suara percikan air yang dimainkan oleh beberapa ekor angsa berkeliaran disini.
Mengikuti kaki berjalan aku melihat seorang gadis sedang melamun seperti halnya sedang menebus segala dosa di gereja namun tampak beban di rawut wajahnya.

Pelan-pelan aku mulai menyapanya...

"Hai, sedang apa? langit sudah hampir gelap, tidakkah kau segera pulang.."

"Aku tak ingin pulang, aku tak bisa menemukan seseorang yang kucari". Dengan rawut wajah berantakan.

"Kau kehilangan saudaramu? seperti apa orangnya?". Dengan begitu cemas kupasangkan wajah.

"Tidak! aku mencari apa yang sedang hatiku cari".

Hari semakin gelap, malam sebentar lagi tiba, namun perbincangan melupakan semesta...

"Kau mencari seperti apa? bukankah rupamu cantik, memiliki dua bola mata indah, rambut yang terurai rapi, dan kau sangat menarik".

"Aku mencari dia yang tulus, dia yang menurutku sempurna, dia yang tak pernah pamrih, dan dia yang selalu bisa merangkul aku saat aku butuhkan, dan berkomitmen akan satu hati dan selayaknya laki-laki".

"hmm... mudah saja jika kau ingin mencari yang seperti itu. Kau hanya perlu menjadi yang sempurna baginya, namun kau tetap menjadi diri sendiri. Percayalah kau menjadi yang sempurna di matanya. Namun jangan pernah paksakan perasaanmu dan perasaannya".

"Aku selalu menunggu dia disini, terkadang aku hampir lupa sudah berapa lama aku menunggu disini, seolah-olah menunggu sudah menjadi kebiasaan bahkan menjadi rutinitasku sehari-hari".

"Jalanilah hidup sesuai perempuan seusiamu, kau tak pantas menunggu!" sedikit lebih tinggi nada bicaraku.

"entahlah, aku tak mudah menerima seseorang begitu saja".

"Mungkin saat ini kau membutuhkan seorang pendengar yang baik. Sudah sejauh ini kita berbicara namun aku tak mengenal siapa namamu?".

"Namaku Azizah. Tepat malam ini sudah dua tahun aku menunggu seseorang di danau ini".

"Dan.. kau tak menemukannya satupun?"

"Ya! aku yakin laki-laki itu ada dan akan segera menemuiku di tempat ini. lelaki yang menurutku sempurna".

"Kau seperti batu besar yang sulit di pecahkan".

Aku meninggalkan Azizah. Entah sampai kapan ia menunggu seorang yang sempurna yang di yakininya akan datang. Azizah bukan anak perempuan seperti biasanya, ia terlalu menjalankan hidup dengan ambisinya yang keras kepala itu. Dibanding perempuan kebanyakan yang lebih mementingkan kehidupan sosialnya, Azizah hanya merenung sendiri dan hari-harinya di habiskan dipinggir danau. Mungkin itu terdengar seperti sia-sia?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar