Dimataku hanya segumpal keegoisan yang mengontrol diriku.
Kau terlampau jenuh.
Tidak adakah ruang kosong untuk diriku termenung dan tempatku berfikir, bercermin atas sikapku padamu?
Jarak dan waktu kini bukan lagi penghambat yang harus dibesar-besarkan. Situasi ini membuatku berlatih kesabaran, sehingga lambat laun menjadi terbiasa.
Kamu yang jauh entah bisa membuatku hingga berkomitmen seperti ini, selama ini. Seperti kau menyihirku hingga dalam-dalam.
Kini aku merasa kehilangan arah pulang. Aku butuh bersandar yang harusnya bahumu bisa menjadi penopang kepalaku, serta juluran panjang tanganmu yang hangat menyentuh tubuhku.
Harusnya kau tempat arahku pulang, tapi kini hanya menjadi pandangan yang buntu dan tak dapat menemukan arah jalan pulangku.
***
Curahatan hati sahabatku yang meneteskan air matanya saat kehilangan arah pulang tempatnya biasa bersandar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar